https://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/issue/feedAgroteknika2026-06-06T00:09:25+07:00Hendrajurnalagroteknika@gmail.comOpen Journal Systems<p>Nama Jurnal <strong> Agroteknika</strong><br>ISSN <strong> <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1561443574" target="_blank" rel="noopener">2685-3450</a> (Elektronik)</strong><br> <strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1562131516" target="_blank" rel="noopener">2685-3353</a> (Cetak)</strong><br>DOI Lama <strong><a href="https://search.crossref.org/?q=2685-3450&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">prefix 10.32530 oleh <img src="http://ijain.org/public/site/images/apranolo/Crossref_Logo_Stacked_RGB_SMALL.png" width="44" height="12"></a><br></strong>DOI Baru <strong><a href="https://search.crossref.org/?q=2685-3450&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">prefix 10.55043 oleh <img src="http://ijain.org/public/site/images/apranolo/Crossref_Logo_Stacked_RGB_SMALL.png" width="44" height="12"></a></strong><br>Frekuensi<strong> Mulai tahun 2024, 4 terbitan per tahun</strong><br><strong> (Maret, Juni, September dan Desember)<br></strong> <strong>sebelumnya 2 terbitan (Juni dan Desember)</strong><br>Kebijakan Akses <a href="https://agroteknika.id/index.php/agtk/akses" target="_blank" rel="noopener"><em><strong>Open Access <img src="/public/site/images/sysadmin/openaccess1.png" width="45" height="17"></strong></em></a><br>Biaya Publikasi <strong><a href="https://agroteknika.id/index.php/agtk/biaya">Rp. 700.000,-</a> (Mulai 1 Januari 2026)</strong><br>Editor in chief <strong><a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=mDTmXtwAAAAJ&hl=en" target="_blank" rel="noopener">Hendra</a> </strong> Scopus ID: <strong><a href="https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57963611700" target="_blank" rel="noopener">57963611700</a></strong><br>Penerbit<strong> <a href="https://gesociety.org" target="_blank" rel="noopener">Green Engineering Society</a><br>Status <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=agroteknika" target="_blank" rel="noopener"> Terkreditasi Nasional SINTA 3</a> <br> <a href="https://drive.google.com/file/d/17sDWbazlUA5uR8lVnM3enpwSKyO5f_UG/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">Nomor 85/M/KPT/2020</a></strong></p>https://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/article/view/647Analisis Spasial Ketersediaan Lahan Potensial untuk Pengembangan Jagung (Zea mays L.) di Bagian Utara Provinsi Bengkulu2026-06-06T00:09:25+07:00Thoriq Taqiyyuddinza007711@gmail.comBambang Sulistyothoriqtaqiyyuddin@gmail.comPriyono Prawitothoriqtaqiyyuddin@gmail.com<p><em>Ketersediaan informasi spasial lahan potensial menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan jagung secara berkelanjutan. Di Provinsi Bengkulu, khususnya Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Tengah, informasi kesesuaian lahan untuk budidaya jagung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan lahan potensial secara spasial serta menentukan lokasi prioritas pengembangan jagung. Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis melalui metode overlay berbobot dan matching berdasarkan kelas kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), dan N (tidak sesuai). Data yang digunakan meliputi peta administrasi, kemiringan lereng, status kawasan, izin usaha pertambangan, jenis tanah, dan curah hujan, serta data lapangan berupa drainase, tekstur tanah, kedalaman efektif, bahan kasar, batuan permukaan, dan pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan potensial untuk pengembangan jagung mencapai 2.471,36 ha dengan dominasi kelas kesesuaian aktual S2 (cukup sesuai). Faktor pembatas utama pada seluruh jenis tanah adalah curah hujan (tc), sedangkan faktor pembatas lain yang spesifik meliputi kondisi drainase (rc) pada Alfisols, Inceptisol dan oxisols, serta retensi hara (nr) pada Oxisols. Secara umum, karakteristik media perakaran, tekstur, kedalaman tanah, dan kemiringan lereng tergolong sesuai (S1), namun keterbatasan iklim dan sifat kimia tanah menjadi kendala utama dalam optimalisasi produksi jagung. Sebaran lahan potensial cenderung berada pada wilayah dengan kondisi topografi relatif landai. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan pengelolaan air dan kesuburan tanah menjadi kunci dalam meningkatkan kelas kesesuaian lahan.</em></p>2026-06-06T00:09:24+07:00Copyright (c) 2026 Thoriq Taqiyyuddin, Bambang Sulistyo, Priyono Prawitohttps://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/article/view/641Peningkatan Mutu Benih Kedelai (Glycine Max (L.) Merr.) dengan Sari Buah Nanas Sebagai Organic Seed Priming2026-06-05T23:51:52+07:00Muhammad Al Qudus Ibsandam.alqudus2003@gmail.comIrawati Chaniagoirawati@agr.unand.ac.idAswaldi Anwaraswaldianwar@agr.unand.ac.id<p><em>Kedelai sebagai salah satu komoditas penting yang berperan dalam pemenuhan bahan pangan dan pakan sebagai sumber protein dan lemak nabati. Penyediaan benih berkualitas baik menjadi salah satu kunci penting dalam upaya meningkatkan produksi kedelai. Perbaikan kualitas benih kedelai dapat dicapai dengan pemberian sari buah nanas berdasarkan reaksi hidrolisis antara enzim bromelin dan protein kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi sari buah nanas terbaik yang dapat digunakan untuk invigorasi benih kedelai.</em> <em>Percobaan dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2025 di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima konsentrasi sari buah nanas yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100% dengan empat ulangan. Benih kedelai direndam selama 3 jam dalam larutan sari buah nanas sebelum dilakukan uji perkecambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sari buah nanas sebagai organic priming dapat meningkatkan persentase daya berkecambah, perkecambahan pada hari hitung pertama, potensi tumbuh maksimum, nilai indeks perkecambahan, bobot kering kecambah normal, dan pertumbuhan akar kecambah. Priming menggunakan konsentrasi 50% sari buah nanas menunjukkan hasil terbaik pada persentase daya berkecambah, perkecambahan pada hari hitung pertama, potensi tumbuh maksimum, dan nilai indeks perkecambahan benih.</em></p>2026-06-05T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Al Qudus Ibsanda, Irawati Chaniago, Aswaldi Anwarhttps://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/article/view/704Pengaruh Teknik Perendaman dan Pengeringan pada Produksi Tepung Ikan Lele (Clarias sp) Terhadap Kadar Kalsium dan Kadar Abu2026-06-05T23:58:14+07:00Dyah Cahyaningsihdyahcahya48@gmail.comFitriana Mustikaningrumfm250@ums.ac.id<p><em>Produksi ikan lele yang terus meningkat memerlukan inovasi pada pengolahan untuk dapat meningkatkan nilai tambah, daya simpan, serta pemanfaatan kandungan gizi ikan lele, salah satunya melalui pengembangan tepung ikan lele. Namun, kualitas tepung ikan lele dipengaruhi oleh proses pengolahan seperti perendaman dan pengeringan yang belum sepenuhnya terstandarisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik perendaman dan pengeringan pada produksi tepung ikan lele terhadap kadar kalsium, kadar abu, serta daya terima tepung ikan lele. Uji daya terima meliputi parameter warna dan aroma oleh 15 panelis terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik perendaman dan pengeringan berpengaruh signifikan terhadap kadar kalsium dan kadar abu (p<0,05). Kadar kalsium tertinggi diperoleh pada teknik perendaman 30 menit dengan pengeringan 12 jam sebesar 4,83%, sedangkan hasil terendah pada teknik perendaman 15 menit dengan pengeringan 12 jam sebesar 3,86%. Kadar abu tertinggi terdapat pada teknik perendaman 15 menit dengan pengeringan 8 jam sebesar 15,7%, dan terendah pada teknik perendaman 15 menit dan pengeringan 12 jam sebesar 13,73%. Seluruh perlakuan memenuhi standar mutu SNI untuk kadar kalsium dan abu. Namun hasil uji daya terima menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh signifikan terhadap warna (p=0,525), aroma (p0,930), dan penilaian keseluruhan (p=0,779). Perlakuan terbaik diperoleh pada teknik perendaman 30 menit dengan pengeringan 12 jam berdasarkan parameter kimia dan tingkat penerimaan panelis yang relatif lebih tinggi. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan kombinasi perlakuan tersebut dalam produksi tepung ikan lele untuk meningkatkan mutu kimia. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis metode pengolahan lain untuk meningkatkan daya terima, seperti variasi bahan perendaman atau teknik pengeringan yang berbeda.</em></p>2026-04-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Dyah Cahyaningsih, Fitriana Mustikaningrumhttps://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/article/view/460Pengaruh Penerapan Good Handling Practices terhadap Bobot Reject Cabai TW pada Penanganan Pascapanen di Rumah Kemas Bernard Tani Pangalengan2026-03-31T23:52:09+07:00Fenny Aprillianifennyaprilliani20@gmail.comAtika Romalasariatika.romalasari@polsub.ac.idEnceng Sobarienceng@polsub.ac.idOyok Yudiyantooyok.yudiyanto@polsub.ac.idMuhammad Arsya Putra Prayogaswarafenny.aprilliani@polsub.ac.idNurul Hikmatullohnurul.10501014@student.polsub.ac.idMuhammad Gilang Ramadhanmuhammad.ramadhan@polsub.ac.idKori Rahma Mardikakori.10310020@student.polsub.ac.id<p><em>Penerapan Good Handling Practices (GHP) pada penanganan pascapanen cabai TW di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan GHP pada penanganan pascapanen cabai TW di tingkat petani dan rumah kemas terhadap bobot reject cabai yang diproduksi. Survey dilakukan terhadap 10 orang petani cabai yang menjadi pemasok utama di Rumah Kemas Bernard Tani Pangalengan, Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan pengambilan sample cabai TW. Evaluasi dilakukan menggunakan praktek yang dilakukan oleh responden dan dibandingkan dengan SOP GHP yang sebelumnya telah dibuat. Hasil penelitian menunjukkan, tingkat kesesuaian penerapan SOP GHP di petani cabai TW sebesar 79%. Selain itu, penerapan GHP terbukti mampu menekan tingkat produk reject sebesar 38,18% dibandingkan dengan penanganan tanpa penerapan GHP.</em></p>2026-03-31T23:47:57+07:00Copyright (c) 2026 Fenny Aprilliani, Atika Romalasari, Enceng Sobari, Oyok Yudiyanto, Muhammad Arsya Putra Prayogaswara, Nurul Hikmatulloh, Muhammad Gilang Ramadhan, Kori Rahma Mardikahttps://mail.agroteknika.id/index.php/agtk/article/view/528Pengaruh Subtitusi Tepung Terigu dengan Tepung Mocaf terhadap Sifat Fisik, Kimiawi, dan Fungsional pada Roti Tawar2026-03-31T23:52:09+07:00Muhammad Isa Dwijatmokomuhammadisa8@gmail.comRince Alfia Fadrimuhammadisa8@gmail.comMutia Elidamuhammadisa8@gmail.comRahzarni Rahzarnimuhammadisa8@gmail.com<p><em>Industri bakeri terus mengalami perubahan sehingga perhatian terhadap preferensi konsumen untuk mengonsumsi produk bakeri menjadi penting. Pada umumnya proses pembuatan produk bakeri menggunakan tepung terigu, namun disisi lain penggunaan tepung terigu pada roti dapat memberikan dampak buruk kesehatan untuk beberapa orang yang tidak toleran terhadap gluten. Penggunaan tepung mocaf dapat menjadi alternatif dalam pembuatan produk bakeri. Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh fisikokimia dan fungsional produk roti tawar dengan subtitusi tepung mocaf. Penelitian ini menggunakan perlakuan berupa variasi proporsi campuran antara tepung terigu dan tepung mocaf dalam pembuatan roti tawar yaitu 100:0 (kontrol), 75:25 (F1), 80: 20 (F2), dan 85: 15 (F3). Selanjutnya, sampel dianalisa berdasarkan proksimat, tekstur, warna, serta antioksidan dan hasil penelitian dianalisa dengan SPSS. Dari hasil penelitian sampel dengan perbandingan tepung terigu lebih tinggi dibandingkan dengan tepung mocaf (F3) mendapatkan kadar protein yang tinggi yaitu, 9,99 ± 0,01%, dan kekerasan 8,54 ± 0,38 N/cm<sup>2</sup> merupakan yang terbaik dibandingkan sampel lainnya. Sedangkan sampel dengan perbandingan tepung mocaf lebih tinggi dibandingkan tepung terigu (F1) mendapatkan kadar karbohidrat 48,04 ± 0,12% dan DPPH 44,61 ± 1,39%, yang tertinggi dibandingkan sampel lainnya. Dari seluruh parameter pengujian F3 merupakan formula yang terbaik yang memiliki tekstur kekerasan roti yang rendah dan memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, dan antioksidan yang cukup tinggi. Namun, sampel tersebut masih lebih rendah dibandingkan kontrol.</em></p>2026-03-31T23:37:18+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Isa Dwijatmoko, Rince Alfia Fadri, Mutia Elida, Rahzarni Rahzarni